MENCINTA BUTA
Genre : Mini Silent
Play
Characters : One blind man and a bunch of people (workers
and students)
Setting :
Jogjakarta Nowadays
Scenes : 4
Time Allotment : Undefined
Symbolization
- Blindness : the pure love
- Water : the kindness
- Stick : the belief/religion
- People : the plurality
- Coins : the ego
- Flower : the world peace
Scene 1
Hari 1
Pagi itu dibuka
dengan pemandangan seorang pria berperawakan tinggi dan besar serta berwajah
seram yang sedang menyapu jalan. Pakaiannya lusuh dan kotor dan wajahnya yang
lesu seolah mencerminkan bahwa ia telah termajinalkan sepanjang hayatnya. Kedua
tangannya memegang sapu lidi yang sudah tak lagi bagus ditengah lautan manusia
berlalu lalang. Sesekali ia menyeka keringat dengan handuknya yang juga tak
berwarna secerah tahun lalu. Ia pun meraba tenggorokannya yang sudah kering
akan hidup, menanti seteguk air yang tak kunjung terpercik. Ia pun berjalan ke
sudut dengan tertatih dan meraba kesana kemari. Ia buta, ia tinggal dalam
kegelapan sejak dalam kandungan.
Sesaat setelah
ia meraih sisi sudut jalan, tangannya mencari di atas tanah seraya berharap ada
sebotol air minum yang ia letakkan pagi itu. Ujung jemarinya pun menyentuh
botol air minumnya dan segera ia menuangkan tegukan air pertama ke kerongkongan
keringnya. Tak jauh dari botol itu, terdapat sebuah kotak hitam yang selalu ia
bawa. Kotak itu tidak besar, tidak lebih dari tiga hasta dengan beberapa lubang
disisi kiri dan kanannya. Tak ada seorangpun yang tau apa isi kotak itu; hanya
ia, angin, dan sang surya yang mampu membaca isi dalam kotak itu. Tegukan kedua
dari botol itu ternyata tidak untuk raganya, ia menuangkan semua air minumnya
ke dalam kotak berlubang itu. Sadar akan air dalam botol telah asat, iapun memasukkan
botol air minum itu ke dalam tas kecilnya.
Scene 2
Hari 2
Hari kedua ia
tidak menyapu. Ia tahu kalau ia menyapu keringatnya akan terkuras sementara ia
tak ada air minum lagi. Ia pun menyusuri jalan dengan sebilah kayu di tangan
kanannya sembari memeluk kotak hitam kesayangan didada kirinya. Jalan itu ramai
dengan orang berlalu lalang. Berdiri dengan gagah tersokong oleh pakaian mereka
yang laik sembari bercakap dengan topeng bersahabat kepada orang satu dan dua.
Si pria dengan bajunya yang lusuh dan kaki tak beralas mencoba mendekati
sekumpulan orang itu sembari menggadang-gadangkan botol kosongnya. Tak ada
orang yang menyahut, mereka hanya melemparkan senyum sinisnya kepada si lusuh sembari
menertawakan kecacatan raga dan hidupnya. Si lusuh kecewa. Ia pun kembali
berjalan di tengah keramaian hingga tak sengaja ia menabrak sekumpulan orang
lain disisi jalan. Tubuhnyapun limbung mencium tanah, kotak dan botol air
minumpun terlepas dari genggamannya. Seorang dari sekumpulan orang itu menawarkan tangannya
kepada si lusuh sementara yang lain membereskan barang-barangnya yang
berantakan. Lagi-lagi, tak seorangpun berani melirik kedalam kotaknya. Sesaat
setelah ia kembali berdiri, ia pun bertanya kepada orang-orang itu apakah
mereka mempunyai sebotol air minum untuknya. Untunglah seorang dari mereka
membawa sebotol minuman sisa dan segera memberikannya kepada si lusuh. Si
lusuhpun menutup hari dengan tersenyum sembari menuangkan tegukan pertama ke
tenggorokannya dan ke dalam kotak pada tegukan yang kedua.
Scene 3
Hari 3
Hari ketiga tak
berawal berbeda dengan hari kedua. Matahari masih bersinar dengan terik
membagikan pelitanya pada bumi. Ia masih bermasalah dengan air. Iapun terus
berjalan menyusuri jalan tak berujung. Tangannya masih penuh dengan
barang-barang kesayangan dan penuntun langkahnya hingga setitik peluhpun tak
sempat disekanya. Langkah kaki membawanya ke segerombolan pemuda dan pemudi berseragam
yang sedang bersenda gurau. Datangnya si lusuh ternyata menginterupsi pembicaraan
sekelompok itu hingga semua matapun tertuju pada si lusuh. Ada yang memandang
dengan sinis ada pula yang bangkit dari duduknya dan mulai melihat sekujur
tubuh si lusuh dari ujung kaki ke ujung rambut dengan tatapan merendahkan. Si
lusuh masih dengan modal botol kosong ditangannya, masih mengiba untuk sebotol
air sembari menunjuk-nunjuk kotak hitamnya. Takut akan isi dalam kotak itu,
seorang siswapun memberikan sebotol air minum yang sedang ia genggam. Si
lusuhpun berterima kasih atas air itu. Lagi-lagi, hari itu ia beruntung bisa mendapatkan
air.
Scene 4
Hari 4
Hari keempat
merupakan puncak dari perjalanannya. Ia masih tidak bekerja tapi ia sedang
berdiri diantara kerumuman manusia, gagah tersokong oleh kayu tuanya sembari
memeluk kotak hitamnya, tanpa botol air minum lagi. Ia datang untuk mendengar,
tidak untuk melihat, sebuah pertunjukan pembacaan puisi kehidupan yang ia suka.
Ia tersudut diantara sekerumunan orang yang mendadak pilu mendengar untaian
kata setelah hari-hari sebelumnya gagah akan kemunafikan dunia. Puisi itu apik
teruntai dalam berbagai bahasa. Tentu si lusuh tak tahu apa maknanya tapi ia
tau itu mendaya jiwanya. Tepat didepan para pembaca puisi membaca, terdapat
sebuah kotak sederhana penampung kompensasi usaha. Kotak itu tidak hitam, tapi
coklat. Sesaat setelah kata terakhir terucap dari sang penyair, semua orangpun
meletakkan sekoin uang di dalam kotak sembari memberikan apresiasi. Si lusuh
mengikuti langkah para penderma dibelakang, sedikit jauh sehingga tak ada orang
yang terganggu atas kehadirannya. Tepat setelah ujung
kakinya menyentuh kotak coklat, ia pun membuka kotak hitamnya perlahan dan
mengeluarkan sekuntum bunga cantik dalam plastik kecil yang telah ia sirami
sepanjang minggu. Iapun menciumnya untuk yang terakhir kali dan meletakkan
bibit bunga itu kedalam kotak coklat sembari berlalu.
END



No comments:
Post a Comment