Saturday, November 24, 2012

Mini Silent Play Mencinta Buta


MENCINTA BUTA




Genre : Mini Silent Play
Characters : One blind man and a bunch of people (workers and students)
Setting : Jogjakarta Nowadays
Scenes : 4
Time Allotment : Undefined

Symbolization 
  • Blindness : the pure love
  • Water : the kindness
  • Stick : the belief/religion
  • People : the plurality
  • Coins : the ego
  • Flower : the world peace


Scene 1

Hari 1
Pagi itu dibuka dengan pemandangan seorang pria berperawakan tinggi dan besar serta berwajah seram yang sedang menyapu jalan. Pakaiannya lusuh dan kotor dan wajahnya yang lesu seolah mencerminkan bahwa ia telah termajinalkan sepanjang hayatnya. Kedua tangannya memegang sapu lidi yang sudah tak lagi bagus ditengah lautan manusia berlalu lalang. Sesekali ia menyeka keringat dengan handuknya yang juga tak berwarna secerah tahun lalu. Ia pun meraba tenggorokannya yang sudah kering akan hidup, menanti seteguk air yang tak kunjung terpercik. Ia pun berjalan ke sudut dengan tertatih dan meraba kesana kemari. Ia buta, ia tinggal dalam kegelapan sejak dalam kandungan.
Sesaat setelah ia meraih sisi sudut jalan, tangannya mencari di atas tanah seraya berharap ada sebotol air minum yang ia letakkan pagi itu. Ujung jemarinya pun menyentuh botol air minumnya dan segera ia menuangkan tegukan air pertama ke kerongkongan keringnya. Tak jauh dari botol itu, terdapat sebuah kotak hitam yang selalu ia bawa. Kotak itu tidak besar, tidak lebih dari tiga hasta dengan beberapa lubang disisi kiri dan kanannya. Tak ada seorangpun yang tau apa isi kotak itu; hanya ia, angin, dan sang surya yang mampu membaca isi dalam kotak itu. Tegukan kedua dari botol itu ternyata tidak untuk raganya, ia menuangkan semua air minumnya ke dalam kotak berlubang itu. Sadar akan air dalam botol telah asat, iapun memasukkan botol air minum itu ke dalam tas kecilnya.


Scene 2

Hari 2
Hari kedua ia tidak menyapu. Ia tahu kalau ia menyapu keringatnya akan terkuras sementara ia tak ada air minum lagi. Ia pun menyusuri jalan dengan sebilah kayu di tangan kanannya sembari memeluk kotak hitam kesayangan didada kirinya. Jalan itu ramai dengan orang berlalu lalang. Berdiri dengan gagah tersokong oleh pakaian mereka yang laik sembari bercakap dengan topeng bersahabat kepada orang satu dan dua. Si pria dengan bajunya yang lusuh dan kaki tak beralas mencoba mendekati sekumpulan orang itu sembari menggadang-gadangkan botol kosongnya. Tak ada orang yang menyahut, mereka hanya melemparkan senyum sinisnya kepada si lusuh sembari menertawakan kecacatan raga dan hidupnya. Si lusuh kecewa. Ia pun kembali berjalan di tengah keramaian hingga tak sengaja ia menabrak sekumpulan orang lain disisi jalan. Tubuhnyapun limbung mencium tanah, kotak dan botol air minumpun terlepas dari genggamannya. Seorang dari sekumpulan orang  itu menawarkan tangannya kepada si lusuh sementara yang lain membereskan barang-barangnya yang berantakan. Lagi-lagi, tak seorangpun berani melirik kedalam kotaknya. Sesaat setelah ia kembali berdiri, ia pun bertanya kepada orang-orang itu apakah mereka mempunyai sebotol air minum untuknya. Untunglah seorang dari mereka membawa sebotol minuman sisa dan segera memberikannya kepada si lusuh. Si lusuhpun menutup hari dengan tersenyum sembari menuangkan tegukan pertama ke tenggorokannya dan ke dalam kotak pada tegukan yang kedua. 


Scene 3

Hari 3
Hari ketiga tak berawal berbeda dengan hari kedua. Matahari masih bersinar dengan terik membagikan pelitanya pada bumi. Ia masih bermasalah dengan air. Iapun terus berjalan menyusuri jalan tak berujung. Tangannya masih penuh dengan barang-barang kesayangan dan penuntun langkahnya hingga setitik peluhpun tak sempat disekanya. Langkah kaki membawanya ke segerombolan pemuda dan pemudi berseragam yang sedang bersenda gurau. Datangnya si lusuh ternyata menginterupsi pembicaraan sekelompok itu hingga semua matapun tertuju pada si lusuh. Ada yang memandang dengan sinis ada pula yang bangkit dari duduknya dan mulai melihat sekujur tubuh si lusuh dari ujung kaki ke ujung rambut dengan tatapan merendahkan. Si lusuh masih dengan modal botol kosong ditangannya, masih mengiba untuk sebotol air sembari menunjuk-nunjuk kotak hitamnya. Takut akan isi dalam kotak itu, seorang siswapun memberikan sebotol air minum yang sedang ia genggam. Si lusuhpun berterima kasih atas air itu. Lagi-lagi, hari itu ia beruntung bisa mendapatkan air.


Scene 4

Hari 4
Hari keempat merupakan puncak dari perjalanannya. Ia masih tidak bekerja tapi ia sedang berdiri diantara kerumuman manusia, gagah tersokong oleh kayu tuanya sembari memeluk kotak hitamnya, tanpa botol air minum lagi. Ia datang untuk mendengar, tidak untuk melihat, sebuah pertunjukan pembacaan puisi kehidupan yang ia suka. Ia tersudut diantara sekerumunan orang yang mendadak pilu mendengar untaian kata setelah hari-hari sebelumnya gagah akan kemunafikan dunia. Puisi itu apik teruntai dalam berbagai bahasa. Tentu si lusuh tak tahu apa maknanya tapi ia tau itu mendaya jiwanya. Tepat didepan para pembaca puisi membaca, terdapat sebuah kotak sederhana penampung kompensasi usaha. Kotak itu tidak hitam, tapi coklat. Sesaat setelah kata terakhir terucap dari sang penyair, semua orangpun meletakkan sekoin uang di dalam kotak sembari memberikan apresiasi. Si lusuh mengikuti langkah para penderma dibelakang, sedikit jauh sehingga tak ada orang yang terganggu atas kehadirannya. Tepat setelah ujung kakinya menyentuh kotak coklat, ia pun membuka kotak hitamnya perlahan dan mengeluarkan sekuntum bunga cantik dalam plastik kecil yang telah ia sirami sepanjang minggu. Iapun menciumnya untuk yang terakhir kali dan meletakkan bibit bunga itu kedalam kotak coklat sembari berlalu. 

END    










Mencinta Buta appeared in the 5th Culture Fest of Language Institute of Sanata Dharma University November 17, 2012



No comments:

Post a Comment