
Seorang wanita paruh baya berjalan gontai menyusuri sebuah area pemakaman. Semburat merah matahari menghantarkan bias-bias kehangatan senja itu. Pohon-pohon beringin menjulang tinggi dengan akar lebat bergelayutan disepanjang dahan, daunnya meranggas digerogoti hama sepanjang usia.
Langkah kakinya tertatih diantara semak yang melebat hebat dan terhenti pada sebuah gundukan peristirahatan penyimpan kenangan, jiwa yang erat hangat menggenggam separuh nafasnya dekade lalu. Tangannya lemah mengusap tanah-tanah itu, menggenggam, dan menciumnya sesekali. Bibirnya bergetar menghantar doa, menahan isak yang membeku sejak kepergian itu. Telinganya lemah lelah bosan akan ceramah keikhlasan. Hatinya terpaut pada jiwa yang telah terbaring dalam pelukan bumi.
"Aku merindukanmu." Ucapnya lirih sambil sesekali mengusap airmata diatas pipinya yang sudah tak lagi mulus.
Ingatannya mengalir ke telaga kenangan dulu, masa dimana tangannya selalu tergenggam, tubuhnya selalu terdekap, dan telinganya yang tak pernah kering dari ungkapan kasih sang pendamping.
"Ketahuilah, kau bukanlah mentari yang selalu menghangatkan hidupku. Kau bukanlah bulan yang selalu menyinariku setiap aku gelap. Kau bukanlah angin pagi yang menenangkanku ketika ku gundah." Ucapnya dengan bibir bergetar menahan luapan kasih yang tak terbendung lagi.
"Tapi kau lah sayap-sayap yang menopangku saat ku jatuh, kau lah sayap-sayap yang melindungku dari terik hidup, dan kaulah sayap-sayap yang mendekapku erat dari dinginnya angin cobaan."
Malampun datang dengan kicauan gagak terbang diatas beringin, membiaskan sinar rembulan pada tanah basah sedari pagi disebelahnya. Wanita itupun meletakkan perlahan kepalanya ditanah itu dan menghilang bersama hembusan angin sang senja. HMWA.
No comments:
Post a Comment