Lututnya tersungkur diatas altar gereja tua yang telah sejak setengah abad lalu mendendangkan kalimat-kalimat kesucian ilahi. Matanya terpejam berat menahan luapan air mata yang terkuras habis sedari bulan menggantung saban hari. Hidungnyapun memerah dengan nafas tersedu melantunkan doa-doa penggantung harapan melalui bibir kelunya yang telah mengering. Dengan susah payah ia menggenggam telapak tangannya yang hampa akan pegangan iman. Sejenak ia menarik nafas dalam. Udara dingin masuk ke rongga-rongga paru-parunya, celah-celah hatinya yang menganga dalam sakit. Sapa Tuhan pun mulai terdengar dalam keheningan malam. Sekejap telinganya tersikap oleh tangan hangat pemilik zaman dan terdengarlah gelisah api-api yang menari diatas lilin-lilin putih, menghantar angannya masuk kedalam dimensi alam infiniti jurang dalam bawah sadar, dalam……sedalam luka yang di goreskan sang anak Adam.
Dialog Tuhan pun menyapa dan menghentakkan keheningan batin yang sebelumnya terasa. Sekejap aliran darah berpacu cepat dengan kelopak mata yang semakin jengah untuk terbuka, sungguh tak seirama dengan tarikan nafas yang kini mulai tenang dan telinga yang semakin hangat dengan firman Tuhan. Dialog itu tak terdengar, kata-kata pahit perontok warasnya tak diucap bibir. Syair penenang itu sungguh mengusap luka batin yang telah menginang dalam hati, peremuk jantung perapuh akal. Entah apa yang diimpikannya semalam. Bayang anak Adam yang lalu tak ada, ada saat itu. Tak pernah terbayang sebelumnya, hati yang telah teraba oleh sakit, kering akan harapan, dan dijajah akal semu itu harus dihadiri pria itu. Ia jelas tak melihat jelas wajah itu, tapi jelas ia tahu jelas siapa jawaban Tuhan itu. Ada saat ia ingin meronta, perkara hal ini baru diketahuinya, kesal akan kenyataan bahwa ia telah lama salah untuk menyianyiakannya dan membiarkan hatinya terbuka untuk orang yang salah.
Semakin keras ia meronta, semakin keras alunan firman terdengar, menghentakkan kesadaran yang telah lama tidur, membelalakkan mata yang telah lama terpejam. Tubuhnya terbungkus gaun putih indah, tangannya jelas bersikap didada, dan kakinya rapat terikat tali mati. Aroma mawar segar dan kampar tercium sengat oleh hidungnya, mengitari sekujur tubuh yang dingin tertiup angin, penyimbol keharuman budi dibumi. Tanganpun direntangkannya keatas, jerit takut membahana dalam altar yang menyakitkan telinganya. Tersadar iapun terduduk dalam kotak kayu tak lebih dari dua meter. Entah apa yang dimimpikannya semalam, tidur suri itu meletakkannya di pangkuan Tuhan, berdialog dengan Tuhan, namun tak terdekap oleh Tuhan, dan menyisakan jawaban akan kenyataan pendamping masa depan. Penyempurna cacat hidup, pendekap erat penenang badai, penghadir harapan kala senja, jawaban atas setiap pertanyaan.
Entah apa yang diimpikannya semalam.
HMWA

No comments:
Post a Comment