“Hai.”
Entah mengapa siang itu menyengatkan panas melebihi biasanya.
Angin malu menyapu debu yang sedari pagi mengganas diatas rumput-rumput layu.
Aku duduk menghadap sahabat diamku yang selalu menampung semua cerita hati.
Entah berapa banyak tulisan yang bersarang di memori kecinya yang tak lebih
dari 106 GB.
Sekelebat kulihat langkah ringanmu menuju meja kosong di
seberang mejaku, di belakang sebuah tembok yang berdiri konyol memisahkan
mejaku mejamu. Kemeja kotak-kotak merahmu menyambar kursi kosong yang masih
hangat ditinggal penguasanya 10 menit yang lalu.
Sebentar ku lihat telepon genggamku yang bertengger diam
diatas meja. Kubuka direktori nomor-nomor telepon yang sudah tersusun rapi dari
A hingga Z. Jari-jari tangankupun berlari kesana-kemari mencari inisial namamu
yang terbenam dalam lautan nomor-nomor yang bahkan tak pernah ku ingat siapa
pemiliknya. Ingin rasanya kuletakkan namamu sebelum huruf A sehingga aku tak
perlu membuang sia-sia detik-detik yang takkan pernah kumiliki lagi. Seperti
halnya ku letakkan gambar dirimu sebelum gambar lain di memoriku yang menyimpan
berjuta-juta mozaik kenangan dalam rongga-rongga otak yang berisi tak kurang
dari 1.300 cc darah segar.
“Hai.”
Tiga huruf yang sejak 15 menit lalu terpampang dilayar
telepon genggamku. Ada banyak yang aku ingin tulis sebenarnya. Namun siang itu
terlalu panas hingga menguapkan kata-kata yang tak pernah mampu keluar dari
mulut, menggumpal diatas langit bersama kata-kata yang telah menggantung sedari
dulu, tertiup angin yang menghembuskannya jauh ke puncak gunung gersang, dan
mengalir jauh dari sungai hatimu.
Omong-omong soal sungai. Aku teringat momen dimana aku dapat
berbagi tempat duduk di pondok tua yang berlindung pada pohon mahoni. Sore itu matahari
segan mebagikan sinarnya, hujan datang menumpahkan ratusan liter air dari
langit, menghembuskan angin yang hebat merontokkan daun-daun kuning dari dahan
pohon mahoni. Kondisi yang sangat jauh berbeda dengan apa yang saat ini
kurasakan. Aku memang tak menghasilkan banyak kata saat itu. Aku sibuk melihat
aliran air menyerupai sungai kecil yang membelah tanah lapang di depan pondok
kita bernaung. Terlebih baru seperempat jam yang lalu kita bertukar nama.
Sesekali kujulurkan tanganku keluar pondok, hanya untuk
memastikan bahwa hujan masih deras, suhu masih dingin, dan kamu masih akan lama
berada di sebelah kananku.
“Ntar kalau udah reda, pulangnya bareng aku aja.”
Pernyataan retorisku keluar memecah keheningan sore itu. Aku
tak mengharap jawaban baik saat itu karena ku tahu hanya keledai bodoh yang mau
menyambut ajakan dari orang yang baru dikenal. Kamupun kembali mengalihkan
pandanganmu ke lapangan yang sejak tadi tergenang air hujan. Menerawang jauh ke
rumput-rumput yang terbenam dalam lumpur seolah sedang mencari alasan mengapa
air dapat mengikat partikel pasir menjadi lumpur.
Hujan itu tak sehebat yang kukira. Tak lebih dari dua jam ia
meneror kedamaian kampung dengan butiran-butiran air sebesar biji jagung. Tak
ada lagi daun-daun yang jatuh dari atas dahan pohon mahoni. Yang ada hanya air
hujan yang menggenang tenang diatas jalan setapak itu. Tak lama seseorang
menoleh kearah kita. Tak perlu ia meneriakkan namamu karena mata kalian sudah bertemu
satu sama lain. Kau langkahkan kaki mu kearah lelaki yang tak pernah ku lihat
wajahnya hingga detik ini. Meninggalkan aku dengan kehangatan kursi yang sejak
tadi kau duduki. Tanpa kata. Tak lama setelahnya aku pun menyingsing matahari
terbenamku. Kakiku melangkah diatas guguran daun dari dahan pohon mahoni. Bau
tanah tak lagi begitu menyengat, namun guguran daun pohon mahoni itu ternyata
menyimpan bau serupa feromon tubuhmu. Harum.
Angin panas berhembus kearahku yang sejak satu jam lalu
terdiam beku menggenggam telepon genggamku. Masih tiga huruf yang ada
dilayarnya.
“Hai.”
Tiga huruf itu pasti lebih mudah ditulis jika dibandingkan
dengan rumus relativitas Einstein. Tapi itu jauh lebih sulit untuk diterangkan
mengapa aku memilih tiga huruf itu dari pada salam kedamaian atau sekedar
“Hallo”.
Akupun mengurungkan niatku untuk melayangkan tiga huruf itu
ke telepon genggammu. Aku memilih momen terindahku pada detik itu; melihat separuh
punggungmu yang terhalang tembok tak lebih dari 40 cm lebarnya.
Yang saat ini ternyata lebih dari sekedar cukup. [HMWA]



No comments:
Post a Comment