Thursday, December 22, 2011

Gerimis



“Aku adalah wanita terbodoh di dunia ini.”

Kata-kata tabu itu keluar dari mulutku begitu saja bersamaan dengan kepingan-kepingan hati yang tak mungkin lagi dapat tersusun sempurna sebagai hati atau bahkan guci. Kusembunyikan itu semua dibalik topeng-topeng kebohongan yang selalu ku bawa; yang membantuku berpura-pura baik dalam merelakan harapan-harapan yang lenyap terlumat takdir.

Sahabatku hanya bisa terdiam sembari merelakan pundaknya basah oleh air mataku. Aku tak mengerti mengapa reaksi ini harus terjadi. Aku sempat tak habis pikir dari mana air mata ini mengucur. Tidakkah ia seperti rintikan hujan yang harus melakukan kondensasi sebelum airnya tumpah ke muka bumi?

Aku sadar bahwa aku jauh lebih tak berakal dari pada keledai yang masuk ke lubang perangkap untuk yang kedua kalinya, ketiga kalinya, atau bahkan kesekian ratus kalinya. Aku jauh lebih lemah dari pada bunga dandelion yang terbang terhentak angin jalang, terhempas ke bumi antah berantah dan terinjak sepatu para perantau jengah.

Ini terjadi untuk kesekian kalinya, otak ini menolak memompakan darah menuju syaraf-syaraf logika yang mendorongku untuk berfikir sedikit waras. Kaki ini pun berontak menuruti keinginanku untuk melangkah barang setapak. Aku terperangkap dalam sebuah labirin kehidupan yang tak pernah ku tau kapan ku masuk dan kapan ku kan keluar dari lorong-lorong gelap ini.

Aku tak pernah memilih untuk jatuh hati. Aku pun tak tau kenapa bisa jatuh hati, jatuh ke perangkap yang sama. Aku bahkan tak mengenali gejala-gejala jatuh hati; tak ada angin yang meribut, tak ada awan yang menyilap matahari. Semua biasa.



Tapi sangat tidak biasa di ulu hati ini. Aku merasa di ujung sebelah kiri ada lilin kecil yang redup bersinar tapi menyenangkan setiap mata yang menatapnya, di sisi lain kosong, hampa, bagai ruangan eksekusi para pesakitan. 


Cahaya dari lilin itu menggeloyor tenang ke setiap rongga-rongga hati, dan menghangatkan setiap sisi yang lembab oleh kesendirian. Tapi cahaya itu tak cukup terang untuk memenuhi setiap sudut-sudut di ruang hati ini.

Sudut gelap itu saksi bisu terpuruknya aku terhempas dari kelegaan hati ini untuk memaklumi dan mengalah dalam pertarungan hati. Kuping ini jengah dengar ceramah orang-orang yang membeo tentang perjuangan hati:

“Cinta tuh harus diperjuangkan”. “Kamu berhak untuk bahagia”. Atau jargon-jargon lainnya yang bisa membakar semangat lebih hebat dari pada pekikan, “Merdeka” atau “Ganyang Belanda” yang pernah diteriakkan para pejuang negeri.



Tangan sahabatku tak pernah berhenti mengusap-usap pundakku yang sedari tadi tak bisa diam sesenggukan. Sesekali ku merasa diafragma paru-paru ini terlalu kaku untuk setiap tarikan nafas yang aku hirup. Tapi sesekalipun aku merasa tenang, lega, dan bahagia. Ada keikhlasan besar yang aku berikan untuk seseorang yang telah mengisi rongga hatiku beberapa tahun belakangan ini.

Ia bukan lelaki sempurna. Ia tidak menarik. Ia juga bukan idaman setiap wanita. Semua biasa. Kecuali keberhasilannya membawa tenang dalam hati ini, layaknya gerimis yang turun setelah kemarau panjang. Ia tak butuh berkata banyak untuk membuatku bahagia. Mendengar deruan nafasnya saja sudah cukup bagiku.

Entah kenapa gerimis selalu menjadi hal yang menyenangkan bagiku. Aroma bumi setelah rintikan air selalu membuat hati ini tenang; seperti kehadirannya dalam hidupku. Ada mimpi besar terendap dalam khayalan di pikiranku; aku ingin mengajaknya duduk. Ya, duduk. Duduk di hamparan rumput luas yang haus percikan air ditemani dengan rintikan butiran-butiran air kecil dari langit yang menguapkan aroma menarik ketika menyentuh tanah bumi. Kami tidak akan bicara. Kami hanya duduk. Duduk dengan tenang melihat setiap butiran air yang turun dari langit ke tanah sembari membayangkan versi slow motion di setiap detik turunnya air itu. Momen itu terasa semakin bermakna dengan kehadiran bulan dan sinarnya yang membuat setiap rintik itu terlihat seperti kunang-kunang. Indah. Inilah caraku menghayati keberadaannya di sampingku.

Tapi sudahlah, khayalan ya khayalan; mimpi besar kosong yang menguap bersama hembusan angin. Impian itu sudah ku kubur dalam-dalam di tanah dalam lapangan luas yang tak seorangpun mampu memasukinya. Apa yang dapat diharapkan seorang pelayar tanpa kapal layar selain khayalan besar untuk berlayar?

Mungkin untuk sebagian orang hal yang aku lakukan ini gila. Aku terjatuh dan bersandar penuh pada hati yang jelas tak akan memberikan ruang barang sedikit untukku masuk. Pintu itu terlalu berat dan besar untuk kubuka. Jangankan pemandangan di balik pintu, setitik cahayapun tak tampak dari dalamnya.  

Tapi kebodohan yang sudah menahun ini memperbudakku untuk mengikuti setiap bisikkan suara hati. Aku tahu dimana ini akan berakhir. Tapi aku tahu betul tak ada yang bisa ku lakukan selain mengikuti setiap liku lorong labirin ini dan dengan bodohnya berpura-pura kaget pada apa yang ku dapati setelah ku susuri semua lorong labirin ini.


Dan kini ku sampai di titik itu. Titik di mana aku mengetahui bahwa hanya lorong yang sunyi, gelap, dan lembab yang aku temui; titik di mana aku harus terkejut akan apa yang sudah ku ketahui. Jangankan gerimis yang kunanti bersama sang pujaan hati, awan pun tak ada di sini. Aku pikir itu normal apabila rasa terkejut ini muncul sekarang. Ini seperti hujan. Hujan tak akan terbentuk tanpa adanya proses penguapan dari laut; rasa terkejut ini juga tak akan terbentuk tanpa adanya kebodohan.

Dan kebodohan itu jugalah yang membawaku pada keikhlasan. Setelah kusandarkan penuh diri ini, ku relakan sandaran itu pergi untuk disandari makhluk lain. Dan aku senang karenanya. Ini bukan masalah hati, kawan. Ini masalah cinta. Ketika orang yang kamu cinta bahagia karena sesuatu yang membuatmu terluka, kamu pun akan segera menemukan kebahagiaan dari rasa sakit itu. Aku relakan pundaknya yang kosong untuk diisi orang lain pun masalah cinta, bukan masalah hati. Aku ikhlas hati ini hancur melebur bersama kubangan lumpur. Aku hayati rasa sakit ini sebagai bentuk kesungguhan hati dalam mencintai. Seperti halnya lilin yang akan meleleh saat menerangi barang setitik. Seperti lenyapnya keindahan gerimis ketika ia menyentuh tanah menjadi genangan air. Yang ku bisa lakukan saat ini hanya menangis sekencang-kencangnya dengan mengucurkan air mata sebanyak-banyaknya. Itu saja.


Pundak sahabatku pun semakin basah oleh air mata. Air mata itu tidak menggenang, tapi membasahi kemeja yang ia kenakan. Dengan berat ku angkat kepala kosong ini. Ku tatap wajah sahabatku yang memancarkan aura kesedihan dari matanya seolah membaca setiap momen nelangsa di hidupku. Ku lihat di depanku gerimis turun dengan anggunnya. Ku hirup udara bumi dengan segenap hati. Aku dan dia hanya duduk dengan tenang dan diam sembari membayangkan versi slow motion di setiap detik turunnya air hujan itu.


“Kamu tau momen apa yang paling indah?” tanyanya.


“Tidak.”


“Duduk dan menghayati gerimis.”


No comments:

Post a Comment