“Aku adalah wanita
terbodoh di dunia ini.”
Kata-kata tabu itu
keluar dari mulutku begitu saja bersamaan dengan kepingan-kepingan hati yang
tak mungkin lagi dapat tersusun sempurna sebagai hati atau bahkan guci. Kusembunyikan
itu semua dibalik topeng-topeng kebohongan yang selalu ku bawa; yang membantuku
berpura-pura baik dalam merelakan harapan-harapan yang lenyap terlumat takdir.
Sahabatku hanya bisa
terdiam sembari merelakan pundaknya basah oleh air mataku. Aku tak mengerti
mengapa reaksi ini harus terjadi. Aku sempat tak habis pikir dari mana air mata
ini mengucur. Tidakkah ia seperti rintikan hujan yang harus melakukan
kondensasi sebelum airnya tumpah ke muka bumi?
Aku sadar bahwa aku
jauh lebih tak berakal dari pada keledai yang masuk ke lubang perangkap untuk
yang kedua kalinya, ketiga kalinya, atau bahkan kesekian ratus kalinya. Aku
jauh lebih lemah dari pada bunga dandelion yang terbang terhentak angin jalang,
terhempas ke bumi antah berantah dan terinjak sepatu para perantau jengah.
Ini terjadi untuk
kesekian kalinya, otak ini menolak memompakan darah menuju syaraf-syaraf logika
yang mendorongku untuk berfikir sedikit waras. Kaki ini pun berontak menuruti
keinginanku untuk melangkah barang setapak. Aku terperangkap dalam sebuah
labirin kehidupan yang tak pernah ku tau kapan ku masuk dan kapan ku kan keluar
dari lorong-lorong gelap ini.
Aku tak pernah memilih
untuk jatuh hati. Aku pun tak tau kenapa bisa jatuh hati, jatuh ke perangkap
yang sama. Aku bahkan tak mengenali gejala-gejala jatuh hati; tak ada angin
yang meribut, tak ada awan yang menyilap matahari. Semua biasa.
Tapi sangat tidak biasa
di ulu hati ini. Aku merasa di ujung sebelah kiri ada lilin kecil yang redup
bersinar tapi menyenangkan setiap mata yang menatapnya, di sisi lain kosong,
hampa, bagai ruangan eksekusi para pesakitan.
Cahaya dari lilin itu menggeloyor tenang ke setiap rongga-rongga hati, dan menghangatkan setiap sisi yang lembab oleh kesendirian. Tapi cahaya itu tak cukup terang untuk memenuhi setiap sudut-sudut di ruang hati ini.
Cahaya dari lilin itu menggeloyor tenang ke setiap rongga-rongga hati, dan menghangatkan setiap sisi yang lembab oleh kesendirian. Tapi cahaya itu tak cukup terang untuk memenuhi setiap sudut-sudut di ruang hati ini.
Sudut gelap itu saksi
bisu terpuruknya aku terhempas dari kelegaan hati ini untuk memaklumi dan
mengalah dalam pertarungan hati. Kuping ini jengah dengar ceramah orang-orang
yang membeo tentang perjuangan hati:
“Cinta tuh harus
diperjuangkan”. “Kamu berhak untuk bahagia”. Atau jargon-jargon lainnya yang
bisa membakar semangat lebih hebat dari pada pekikan, “Merdeka” atau “Ganyang
Belanda” yang pernah diteriakkan para pejuang negeri.
Tangan sahabatku tak pernah berhenti mengusap-usap pundakku yang sedari tadi tak bisa diam sesenggukan. Sesekali ku merasa diafragma paru-paru ini terlalu kaku untuk setiap tarikan nafas yang aku hirup. Tapi sesekalipun aku merasa tenang, lega, dan bahagia. Ada keikhlasan besar yang aku berikan untuk seseorang yang telah mengisi rongga hatiku beberapa tahun belakangan ini.
Ia bukan lelaki
sempurna. Ia tidak menarik. Ia juga bukan idaman setiap wanita. Semua biasa.
Kecuali keberhasilannya membawa tenang dalam hati ini, layaknya gerimis yang
turun setelah kemarau panjang. Ia tak butuh berkata banyak untuk membuatku
bahagia. Mendengar deruan nafasnya saja sudah cukup bagiku.
Entah kenapa gerimis
selalu menjadi hal yang menyenangkan bagiku. Aroma bumi setelah rintikan air
selalu membuat hati ini tenang; seperti kehadirannya dalam hidupku. Ada mimpi
besar terendap dalam khayalan di pikiranku; aku ingin mengajaknya duduk. Ya,
duduk. Duduk di hamparan rumput luas yang haus percikan air ditemani dengan rintikan
butiran-butiran air kecil dari langit yang menguapkan aroma menarik ketika menyentuh
tanah bumi. Kami tidak akan bicara. Kami hanya duduk. Duduk dengan tenang
melihat setiap butiran air yang turun dari langit ke tanah sembari membayangkan
versi slow motion di setiap detik turunnya air itu. Momen itu
terasa semakin bermakna dengan kehadiran bulan dan sinarnya yang membuat setiap
rintik itu terlihat seperti kunang-kunang. Indah. Inilah caraku menghayati
keberadaannya di sampingku.
Tapi sudahlah, khayalan
ya khayalan; mimpi besar kosong yang menguap bersama hembusan angin. Impian itu
sudah ku kubur dalam-dalam di tanah dalam lapangan luas yang tak seorangpun
mampu memasukinya. Apa yang dapat diharapkan seorang pelayar tanpa kapal layar
selain khayalan besar untuk berlayar?
Mungkin untuk sebagian
orang hal yang aku lakukan ini gila. Aku terjatuh dan bersandar penuh pada hati
yang jelas tak akan memberikan ruang barang sedikit untukku masuk. Pintu itu
terlalu berat dan besar untuk kubuka. Jangankan pemandangan di balik pintu,
setitik cahayapun tak tampak dari dalamnya.
Tapi kebodohan yang
sudah menahun ini memperbudakku untuk mengikuti setiap bisikkan suara hati. Aku
tahu dimana ini akan berakhir. Tapi aku tahu betul tak ada yang bisa ku lakukan
selain mengikuti setiap liku lorong labirin ini dan dengan bodohnya
berpura-pura kaget pada apa yang ku dapati setelah ku susuri semua lorong
labirin ini.
Dan kini ku sampai di
titik itu. Titik di mana aku mengetahui bahwa hanya lorong yang sunyi, gelap, dan
lembab yang aku temui; titik di mana aku harus terkejut akan apa yang sudah ku
ketahui. Jangankan gerimis yang kunanti bersama sang pujaan hati, awan pun tak
ada di sini. Aku pikir itu normal apabila rasa terkejut ini muncul sekarang.
Ini seperti hujan. Hujan tak akan terbentuk tanpa adanya proses penguapan dari
laut; rasa terkejut ini juga tak akan terbentuk tanpa adanya kebodohan.
Dan kebodohan itu
jugalah yang membawaku pada keikhlasan. Setelah kusandarkan penuh diri ini, ku
relakan sandaran itu pergi untuk disandari makhluk lain. Dan aku senang
karenanya. Ini bukan masalah hati, kawan. Ini masalah cinta. Ketika orang yang
kamu cinta bahagia karena sesuatu yang membuatmu terluka, kamu pun akan segera
menemukan kebahagiaan dari rasa sakit itu. Aku relakan pundaknya yang kosong
untuk diisi orang lain pun masalah cinta, bukan masalah hati. Aku ikhlas hati
ini hancur melebur bersama kubangan lumpur. Aku hayati rasa sakit ini sebagai
bentuk kesungguhan hati dalam mencintai. Seperti halnya lilin yang akan meleleh
saat menerangi barang setitik. Seperti lenyapnya keindahan gerimis ketika ia
menyentuh tanah menjadi genangan air. Yang ku bisa lakukan saat ini hanya
menangis sekencang-kencangnya dengan mengucurkan air mata sebanyak-banyaknya.
Itu saja.
…
Pundak sahabatku pun
semakin basah oleh air mata. Air mata itu tidak menggenang, tapi membasahi kemeja
yang ia kenakan. Dengan berat ku angkat kepala kosong ini. Ku tatap wajah
sahabatku yang memancarkan aura kesedihan dari matanya seolah membaca setiap
momen nelangsa di hidupku. Ku lihat di depanku gerimis turun dengan anggunnya.
Ku hirup udara bumi dengan segenap hati. Aku dan dia hanya duduk dengan tenang
dan diam sembari membayangkan versi slow motion di setiap detik turunnya
air hujan itu.
“Kamu tau momen apa
yang paling indah?” tanyanya.
“Tidak.”
“Duduk dan menghayati
gerimis.”





No comments:
Post a Comment