Tuesday, December 27, 2011

Ombak Hati


Pagi itu gelap, jauh lebih gelap dari hari-hari yang lalu. Aku sadar, mataku hanya bisa melihat gelap di seluruh penjuru bumi. Tapi gelap ini bukan karena itu. Gelap ini karena awan mendung di ujung-ujung mataku yang hendak menumpahkan kristal-kristal air mata. Aku bukan orang yang mudah menderma air mata. Mataku sudah kebal dengan penderitaan. Separuh hidupku, 7 tahun lalu, terbalut dengan derai air mata setiap harinya. Aku terbiasa hidup sendiri, tak ada teman yang menemani tawaku, tak ada sahabat yang hendak menghapus air mataku kala menderai. Yang ku punya hanya Ibu. Sesosok malaikat sempurna yang hingga detik ini tak bisa ku pandang wajahnya. Aku hanya menerka-nerka bahwa wajahnya pasti indah seindah cerita mendiang Ayah tentang matahari terbenam, meski ku tahu bahwa kulitnya tak sehalus bulu-bulu merpati.


Aku ingat, dulu ibu sering memelukku dari belakang ketika aku sedang bermain. Dekapannya begitu hangat sehangat matahari pagi. Aku tidak tahu mengapa ibu sering mendekapku erat-erat hingga terkadang nafas ku sesak. Aku gerakkan tangan dan kakiku untuk memberitahu Ibu bahwa dekapannya terlalu erat, aku sulit bernafas. Tapi gerakan itu terlalu keras hingga aku meninju mukanya. Aku tak mengerti mengapa tangan itu bisa meluncur begitu hebat. Sulit untukku mengendalikan gerakan tangan dan kaki ini. Aku mulai berpikir, tangan dan kaki siapa yang aku punya? Tidakkah mereka seharusnya mengikuti kehendak hatiku?

Aku tinggal bersama Ibu di rumah sederhana kami. Rumah itu terbuat dari kayu, aku bisa merasakan buku-buku kayu dengan baik – melingkar-lingkar dengan bentuk lingkaran tak sempurna. Alas rumah kami bergelombang meskipun ibu sudah melapisinya dengan lapisan plastik agar aku bisa menjangkau seisi rumah dengan jurus rangkakkanku. Ya, merangkak. Satu-satunya cara yang ku bisa untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tapi rangkakkan ini sering membuatku menangis perkara benjolan-benjolan nyeri yang sering ku dapat ketika menubruk benda-benda padat di hadapanku. Tapi tangisan itu dijaminkan tak lebih dari sepuluh menit karena Ibu akan segera datang untuk mendekapku sambil mengusap-usap benjolan di keningku dan memukul-mukul benda yang aku tabrak, meskipun aku tahu barang itu tidak salah; aku yang salah karena menabrak benda itu. Tapi sungguh, dekapan itu begitu menenangkan. Pelukan itu jauh lebih nyaman dari pada kasur tidurku yang tak lagi empuk dan sedikit beraroma lapuk.

Omong-omong soal barang favorit, aku punya sebuah boneka sederhana yang bulunya tak begitu halus. Itu pemberian tetangga kami yang sudah pindah ke kota dan memilih untuk memberikan sebagian barang-barangnya untuk kami. Barang ini adalah perihal kedua yang ingin aku lihat selain wajah Ibu. Ia selalu ada di sebelah kiri ku ketika ku tidur karena sebelah kanan ku selalu sudah di okupasi oleh Ibu. Momen itu begitu indah sampai suatu pagi yang sebelumnya menawan menjadi mala petaka kehidupan yang mengakhiri kisah ku bersama Ibu dan boneka lusuhku.


Pagi itu dimulai seperti biasa, bunyi gemericik air dari belakang rumah yang berasal dari tangan-tangan Ibu yang berkecipak di atas air membilas pakaian-pakaian kotor ku dan tetangga-tetangga sebelah rumah yang menitipkan cuciannya kepada Ibu. Tapi saat itu keadaan tubuhku tak begitu bagus. Aku merasa sedikit tidak nyaman karena putaran-putaran itu. Aku tidak menggerakkan tangan dan kakiku untuk berputar, tapi kegelapan ini yang berputar, semakin lama semakin cepat, dan itu membuatku mual. Aku hanya butuh satu rengekan untuk memanggil Ibu ke dalam dan dengan sigap Ibu akan datang sembari menyapaku dengan suaranya yang khas. Seketika Ibu memelukku, Ibu langsung bisa merasakan ketidak beresan jasmaniku. Ibu mengusap-usap kepalaku dengan tangan basahnya dan menenangkan diriku dengan nyanyian kecilnya meskipun aku tahu detak jantungnya tak bernyanyi seirama dengan nyanyiannya, aku tak merasa secuil ketenangan pun di hati Ibu.
Segera setelah tangisanku mereda, Ibu pergi ke dapur untuk memanaskan air dalam teko tua yang akan mendenging ketika airnya sudah mendidih dan membereskan pekerjaannya yang harus segera ditangani. Aku masih terbaring layu di atas kasur tua menunggu Ibu yang akan memandikanku setelah teko itu mendenging.

Detik itu terasa begitu cepat. Teko itu mendenging layaknya terompet penutup hari, semakin lama semakin nyaring. Aku menunggu Ibu yang sedari tadi tak ada respon dari belakang.

“Kemana Ibu?” tanyaku dalam hati.

Niatku berteriak memanggil Ibu tetapi suara ini tak berhasil memenangkan pertarungan dengan suara dengingan teko itu. Ku coba merengek karena ku pikir itu jurus terampuh memanggil Ibu, tapi tidak untuk saat itu. Ku coba gerakkan tangan dan kaki ini untuk merangkak, barangkali aku akan menubruk lagi, menangis, dan berhasil memanggil Ibu masuk ke dalam rumah tapi kepala ini terlalu berat untuk digerakkan dan aku semakin pusing.

Suara denging itu segera disusul oleh suara berisik dari teko kosong yang airnya sudah menguap ke udara. Teko itu jatuh dari kompor dan membentur lantai rumah kami. Seketika panas pun mulai terasa di seluruh sudut ruangan dan disusul oleh rasa sesak di ujung-ujung hidung. Dengan lidah yang kalu dari lahir ini, tak banyak kata yang bisa ku ucapkan selain merengek. Ku kerahkan semua tenagaku untuk merengek layaknya suara deruan obak di samudera lepas. Sekali, dua kali, lagi dan lagi hingga suara derap langkah menggema di ruangan itu. Tak banyak kata yang dilontarkan orang itu, ia segera mendekapku dari belakang, dari kehangatan pelukan dan aroma tubuh aku tahu persis bahwa itu ibu.


Ibu segera menggendongku keluar rumah yang sudah disesaki oleh asap yang ku yakini berwarna hitam pekat. Tapi ibu lupa membawa boneka ku. Aku merengek hebat di luar rumah karena ingin boneka itu kembali. Sekonyong-konyong orang gelap mata, ibu segera masuk ke dalam rumah dan meraih boneka itu. Tapi api sudah terlanjur melumat sebagian rumah, dan Ibu terperangkap di dalamnya. Tak lama setelahnya suara gemuruh masyarakat membumbung di cakrawala. Mereka berduyun-duyun datang kerumah dengan baki-baki penuh air yang sesekali membasahi lengan lemahku.

Detik itu juga, batin ini tak tenang bukan kepalang, tubuh ini bergoncang bak ikan merindu air. Aku tahu Ibu ada di dalam dan aku tahu api itu sudah menjadi raja di rumah kayu ku. Aku berserah pada ketakberdayaan akan satu impian; beranjak dari raga layuku, berlari ke dalam rumah, menggendongnya keluar, lalu mencium dan mendekap Ibu dengan erat. Aku yakin itu impian yang tak terlalu tinggi untuk manusia yang terperangkap dalam penjara jasmani. Namun jiwa ini sudah terlanjur betah bersemayam dalam keterbatasan raga. Aku berpasrah akan hilangnya ombak hati itu. Aku rapuh untuk menerima kenyataan bahwa dalam beberapa jam kedepan tak akan ada lagi malaikat yang menemaniku menentang malam dan bintang-bintang terang. 



Tiga bulan setelahnya, aku masih hanya bisa terlentang bisu di lantai tanpa boneka lusuh di sebelah kiri dan tanpa Ibu di sebelah kanan ku. Sejak kejadian itu, sisi kanan dan kiriku selalu dingin. Aku ingin kehangatan yang diciptakan dekapan Ibu di setiap malamnya. Aku rindu aroma khas bonekaku. Tapi kesendirian ini tak begitu menusuk tulang karena ada teman bicara dikala senja yang abadi, yang mengerti, dan yang menemaniku hingga aku kembali keperaduanku.  

No comments:

Post a Comment