Pagi itu gelap, jauh
lebih gelap dari hari-hari yang lalu. Aku sadar, mataku hanya bisa melihat
gelap di seluruh penjuru bumi. Tapi gelap ini bukan karena itu. Gelap ini
karena awan mendung di ujung-ujung mataku yang hendak menumpahkan kristal-kristal
air mata. Aku bukan orang yang mudah menderma air mata. Mataku sudah kebal
dengan penderitaan. Separuh hidupku, 7 tahun lalu, terbalut dengan derai air
mata setiap harinya. Aku terbiasa hidup sendiri, tak ada teman yang menemani
tawaku, tak ada sahabat yang hendak menghapus air mataku kala menderai. Yang ku
punya hanya Ibu. Sesosok malaikat sempurna yang hingga detik ini tak bisa ku
pandang wajahnya. Aku hanya menerka-nerka bahwa wajahnya pasti indah seindah
cerita mendiang Ayah tentang matahari terbenam, meski ku tahu bahwa kulitnya
tak sehalus bulu-bulu merpati.
Aku ingat, dulu ibu
sering memelukku dari belakang ketika aku sedang bermain. Dekapannya begitu
hangat sehangat matahari pagi. Aku tidak tahu mengapa ibu sering mendekapku
erat-erat hingga terkadang nafas ku sesak. Aku gerakkan tangan dan kakiku untuk
memberitahu Ibu bahwa dekapannya terlalu erat, aku sulit bernafas. Tapi gerakan
itu terlalu keras hingga aku meninju mukanya. Aku tak mengerti mengapa tangan
itu bisa meluncur begitu hebat. Sulit untukku mengendalikan gerakan tangan dan
kaki ini. Aku mulai berpikir, tangan dan kaki siapa yang aku punya? Tidakkah
mereka seharusnya mengikuti kehendak hatiku?
Aku tinggal bersama Ibu
di rumah sederhana kami. Rumah itu terbuat dari kayu, aku bisa merasakan
buku-buku kayu dengan baik – melingkar-lingkar dengan bentuk lingkaran tak
sempurna. Alas rumah kami bergelombang meskipun ibu sudah melapisinya dengan
lapisan plastik agar aku bisa menjangkau seisi rumah dengan jurus rangkakkanku.
Ya, merangkak. Satu-satunya cara yang ku bisa untuk berpindah dari satu tempat
ke tempat lain. Tapi rangkakkan ini sering membuatku menangis perkara
benjolan-benjolan nyeri yang sering ku dapat ketika menubruk benda-benda padat
di hadapanku. Tapi tangisan itu dijaminkan tak lebih dari sepuluh menit karena
Ibu akan segera datang untuk mendekapku sambil mengusap-usap benjolan di
keningku dan memukul-mukul benda yang aku tabrak, meskipun aku tahu barang itu
tidak salah; aku yang salah karena menabrak benda itu. Tapi sungguh, dekapan
itu begitu menenangkan. Pelukan itu jauh lebih nyaman dari pada kasur tidurku
yang tak lagi empuk dan sedikit beraroma lapuk.
Omong-omong soal barang
favorit, aku punya sebuah boneka sederhana yang bulunya tak begitu halus. Itu
pemberian tetangga kami yang sudah pindah ke kota dan memilih untuk memberikan
sebagian barang-barangnya untuk kami. Barang ini adalah perihal kedua yang
ingin aku lihat selain wajah Ibu. Ia selalu ada di sebelah kiri ku ketika ku
tidur karena sebelah kanan ku selalu sudah di okupasi oleh Ibu. Momen itu
begitu indah sampai suatu pagi yang sebelumnya menawan menjadi mala petaka
kehidupan yang mengakhiri kisah ku bersama Ibu dan boneka lusuhku.
Pagi itu dimulai
seperti biasa, bunyi gemericik air dari belakang rumah yang berasal dari
tangan-tangan Ibu yang berkecipak di atas air membilas pakaian-pakaian kotor ku
dan tetangga-tetangga sebelah rumah yang menitipkan cuciannya kepada Ibu. Tapi
saat itu keadaan tubuhku tak begitu bagus. Aku merasa sedikit tidak nyaman
karena putaran-putaran itu. Aku tidak menggerakkan tangan dan kakiku untuk
berputar, tapi kegelapan ini yang berputar, semakin lama semakin cepat, dan itu
membuatku mual. Aku hanya butuh satu rengekan untuk memanggil Ibu ke dalam dan
dengan sigap Ibu akan datang sembari menyapaku dengan suaranya yang khas.
Seketika Ibu memelukku, Ibu langsung bisa merasakan ketidak beresan jasmaniku.
Ibu mengusap-usap kepalaku dengan tangan basahnya dan menenangkan diriku dengan
nyanyian kecilnya meskipun aku tahu detak jantungnya tak bernyanyi seirama
dengan nyanyiannya, aku tak merasa secuil ketenangan pun di hati Ibu.
Segera setelah
tangisanku mereda, Ibu pergi ke dapur untuk memanaskan air dalam teko tua yang
akan mendenging ketika airnya sudah mendidih dan membereskan pekerjaannya yang
harus segera ditangani. Aku masih terbaring layu di atas kasur tua menunggu Ibu
yang akan memandikanku setelah teko itu mendenging.
Detik itu terasa begitu
cepat. Teko itu mendenging layaknya terompet penutup hari, semakin lama semakin
nyaring. Aku menunggu Ibu yang sedari tadi tak ada respon dari belakang.
“Kemana Ibu?” tanyaku
dalam hati.
Niatku berteriak
memanggil Ibu tetapi suara ini tak berhasil memenangkan pertarungan dengan
suara dengingan teko itu. Ku coba merengek karena ku pikir itu jurus terampuh
memanggil Ibu, tapi tidak untuk saat itu. Ku coba gerakkan tangan dan kaki ini
untuk merangkak, barangkali aku akan menubruk lagi, menangis, dan berhasil
memanggil Ibu masuk ke dalam rumah tapi kepala ini terlalu berat untuk
digerakkan dan aku semakin pusing.
Suara denging itu
segera disusul oleh suara berisik dari teko kosong yang airnya sudah menguap ke
udara. Teko itu jatuh dari kompor dan membentur lantai rumah kami. Seketika
panas pun mulai terasa di seluruh sudut ruangan dan disusul oleh rasa sesak di
ujung-ujung hidung. Dengan lidah yang kalu dari lahir ini, tak banyak kata yang
bisa ku ucapkan selain merengek. Ku kerahkan semua tenagaku untuk merengek
layaknya suara deruan obak di samudera lepas. Sekali, dua kali, lagi dan lagi
hingga suara derap langkah menggema di ruangan itu. Tak banyak kata yang
dilontarkan orang itu, ia segera mendekapku dari belakang, dari kehangatan
pelukan dan aroma tubuh aku tahu persis bahwa itu ibu.
Ibu segera
menggendongku keluar rumah yang sudah disesaki oleh asap yang ku yakini
berwarna hitam pekat. Tapi ibu lupa membawa boneka ku. Aku merengek hebat di
luar rumah karena ingin boneka itu kembali. Sekonyong-konyong orang gelap mata,
ibu segera masuk ke dalam rumah dan meraih boneka itu. Tapi api sudah terlanjur
melumat sebagian rumah, dan Ibu terperangkap di dalamnya. Tak lama setelahnya
suara gemuruh masyarakat membumbung di cakrawala. Mereka berduyun-duyun datang
kerumah dengan baki-baki penuh air yang sesekali membasahi lengan lemahku.
Detik itu juga, batin ini
tak tenang bukan kepalang, tubuh ini bergoncang bak ikan merindu air. Aku tahu
Ibu ada di dalam dan aku tahu api itu sudah menjadi raja di rumah kayu ku. Aku berserah
pada ketakberdayaan akan satu impian; beranjak dari raga layuku, berlari ke
dalam rumah, menggendongnya keluar, lalu mencium dan mendekap Ibu dengan erat. Aku
yakin itu impian yang tak terlalu tinggi untuk manusia yang terperangkap dalam
penjara jasmani. Namun jiwa ini sudah terlanjur betah bersemayam dalam keterbatasan
raga. Aku berpasrah akan hilangnya ombak hati itu. Aku rapuh untuk menerima
kenyataan bahwa dalam beberapa jam kedepan tak akan ada lagi malaikat yang
menemaniku menentang malam dan bintang-bintang terang.
…
Tiga bulan setelahnya,
aku masih hanya bisa terlentang bisu di lantai tanpa boneka lusuh di sebelah
kiri dan tanpa Ibu di sebelah kanan ku. Sejak kejadian itu, sisi kanan dan kiriku
selalu dingin. Aku ingin kehangatan yang diciptakan dekapan Ibu di setiap
malamnya. Aku rindu aroma khas bonekaku. Tapi kesendirian ini tak begitu
menusuk tulang karena ada teman bicara dikala senja yang abadi, yang mengerti,
dan yang menemaniku hingga aku kembali keperaduanku.




No comments:
Post a Comment